Image default
Metropolitan

Kuli Bangunan Kaget Didatangi Petugas Pajak Diminta Bayar 200 Juta! Rumahnya Berdinding Triplek

Seorang kuli bangunan yang tinggal di rumah sederhana kaget saat disambangi petugas pajak yang tagih uang pajak sebesar Rp 200 juta untuk mobil mewah! Membayar pajak adalah kewajiban semua warga negara. Bahkan jika kamu tida membayarkan pajak urusannya bisa panjang dengan pemerintahan.

Apalagi untuk yang memiliki banyak aset mewah. Namun kali ini petugas pajak dari Badan Pajak Retribusi Daerah (BPRD) DKI Jakarta dibuat kebingungan. Bagaimana tidak, mereka ditugaskan untuk menagih pembayaran pajak pemilik mobil mewah.

Namun mereka malah terkejut saat tiba di lokasi rumah yang terdaftar memiliki mobil mewah. Sang pemilik rumah yang namanya tertulis juga tak kalah kaget saat melihat petugas pajak dari Badan Pajak Retribusi Daerah (BPRD) DKI Jakarta. Pria ini bernama Dimas Agung Prayitno (21) mendadak memiliki satu unit mobil mewah yang bernilai miliaran didaftarkan atas namanya.

Dimas Agung sehari hari bekerja sebagai kuli bangunan untuk bertahan hidup. Jangankan mobil mewah seperti yang ditanyakan petugas pajak ini. Pria ini saja masih kesulitan mengganti dinding rumahnya yang terbuat dari triplek bekas jadi bangunan permanen.

Ya, mendadak kaya raya dalam semalam rasanya memang terdengar bak cerita dongeng 1001 malam. Sulit rasanya percaya bila ada seseorang yang bisa kaya raya mendadak dalam semalam tanpa usaha sama sekali. Apalagi kaya raya hingga bisa membeli satu unit mobil mewah senilai miliaran Rupiah, rasanya mustahil sekali bakal terjadi.

Namun nama Dimas Agung tertulis memiliki satu unit mobil mewah jenis Roll Royce Phantom yang harga per unitnya bisa mencapai Rp 20 miliar. Dalam surat tersebut, Dimas dinyatakan memiliki tunggakan pajak atas kepemilikan satu buah unit mobil. Dimas juga kerap mengabaikan surat tunggakan pajak ini karena mengira salah kirim.

Namun tiga kali mendapatkan surat dari Samsat Jakarta Barat, ia bingung saat petugas pajak benar benar datang ke rumahnya. Petugas juga tak menyangka jika sosok kuli bangunan ini jadi korban pengemplang pajak. Data yang terdaftar dalam kepemilikan kendaraan mewah rupanya tak cocok dengan yang terjadi di lapangan.

Dimas yang disambangi petugas pajak pun mengaku tak tahu harus bagaimana. Terlebih lagi ketika namanya dicatutkan dalam surat penunggakan pajak sebesar Rp 200 juta untuk satu unit mobil mewah. Jangankan bayar, tahu jenis mobilnya seperti apa saja Dimas tak tahu sama sekali.

"Padahal saya lihat mobil itu saja belum pernah, tahu juga tidak," lanjut Dimas. Dimas ternyata pernah meminjamkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) pada bosnya tahun 2017. Namun setelah hubungan kerja mereka berakhir, Dimas tak mendapatkan kembali KTP nya.

Dimas pun curiga bahwa ini adalah perbuatan mantan bos nya, terlebih lagi diperkuat dengan fakta dirinya yang sama sekali tak bisa menghubungi si mantan bos. "Mungkin dipakai untuk kepemilikan itu. Terakhir bertemu bos saya itu tahun 2018, sekarang perusahaannya sudah tutup," jelas Dimas. Atas kejadian ini, Dimas hanya bisa pasrah dan menyerahkannya kepada petugas yang berwenang.

Pasalnya, ia sendiri juga tak tahu harus bagaimana. Terlebih lagi ketika ia mengetahui inilah yang menjadi alasan pemerintah menolak berikan bantuan kepada keluarganya. Sebelumnya, Dimas sempat kaget saat pemerintah menolak terima surat surat administrasi yang didaftarkan Dimas untuk bantuan kesehatan (KJS) dan pendidikan (KJP).

Namun setelah diusut rupanya pemerintah menolak beri bantuan kepada Dimas karena dianggap menyalahi syarat utama penerima bantuan. Nama Dimas Agung Prayitno rupanya terdaftar memiliki satu unit mobil mewah senilai Rp 20 miliar. "Selama ini saya memang tidak memiliki KJS (Kartu Jakarta Sehat) dan KJP (Kartu Jakarta Pintar), baru ini mau buat ternyata ketahuan ada masalah ini," kata Dimas.

Modus kerap kali dilakukan agar si pemilik mobil mewah tidak terbebani pajak tambahan. Beberapa modus tersebut, kata Pilar Hendrani, mulai terbongkar saat adanya bantuan bantuan dari pemerintah. "Beberapa nama yang dicatut baru ketahuan saat mereka mengurus KJP (Kartu Jakarta Pintar) atau KJS (Kartu Jakarta Sehat).

Di situ mereka baru tahu namanya dicatut saat meminjamkan KTP ke orang lain," kata Pilar Hendrani. Pilar menjelaskan banyak pencatutan identitas untuk membeli kendaraan mewah. Setelah ditelusuri KTP yang dipakai ternyata bukan punya si pemilik kendaraan.

Hal itu dapat dilihat dari penunggak pajak kendaraan mewah di Jakarta Barat yang jumlahnya mencapai 2.000 kendaraan. Pilar menjelaskan pencatutan identitas orang lain untuk kepemilikan kendaraan mewah diprediksi merugikan pemasukan daerah hingga puluhan miliaran rupiah. "Maka sering ada miss disitu saat kita melakukan penagihan.

Kemungkinan dari angka itu banyak yang gunakan identitas orang lain sehingga sulit kami tagih," lanjut Pilar Hendrani

Berita Terkait

Terkait Reklamasi, Pemprov DKI Diminta Berikan Kepastian dan Keadilan Hukum

Maya Rosfi'ah

Viral Pria Gendong Jenazah Karena Ambulans Puskesmas Tak Bisa Dipakai, Ini Respons Wali Kota

Maya Rosfi'ah

Jadi Buronan, Pelaku Begal Payudara di Bintaro Diduga Kabur ke Luar Kota

Maya Rosfi'ah

Kirana Larasati Beri Pesan Buat Anies Baswedan Keluhkan Proyek Trotoar Jakarta Tak Segera Rampung

Maya Rosfi'ah

Usai Kerusuhan, Hari Ini Pasar Tanah Abang Beroperasi Normal Lagi

Maya Rosfi'ah

Makan Opor dan Rendang Saat Lebaran, Wanita Ini Bakar Lemak saat Car Free Day

Maya Rosfi'ah

Ada Pengalihan Arus Lalulintas di Kawasan Senayan

Maya Rosfi'ah

13.109 Orang Padati Monas Saksikan Orkestra Musik Klasik

Maya Rosfi'ah

Anies Baswedan Tunda Rencana Pembebasan PBB P2 Bagi Warga Yang Bangun Sumur Resapan

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment