Image default
Nasional

Ini Kata Suami & Pemkab Istri Keguguran & Patah Tulang Viral Kejadian Tertimpa Pohon di Sleman

Media sosial Twitter diramaikan dengan unggahan cerita warganet bernama Endi Yogananta, Senin (17/2/2020). Endi bercerita tentang kondisi istrinya saat ini, setelah kejadian tertimpa pohon di daerah Sleman, Yogyakarta Rabu (5/2/2020) silam. Dalam unggahannya, Endi meminta pertanggungjawaban dari pemerintah atas peristiwa yang menimpa keluarganya.

"Saya mohon belas kasih pemerintah, dinas atau lembaga yg bertanggung jawab atas tragedi malam itu yg telah merusak mimpi keluarga kecil saya. Sampai saat ini saya blm ada pendampingan untuk tragedi saya ini Saya tdk tau siapa yg akan bertanggung jawab ," tulisnya disertai serangkaian keterangan lainnya.

Diceritakan Endi, ia bersama sang istri tertimpa pohon saat hendak pulang ke rumah. Peristiwa tersebut mengakibatkan anak yang masih dalam kandungan istrinya meninggal dunia. Istrinya pun harus menjalani perawatan intensif.

Tweet yang diunggahnya pun dibagikan sebanyak 43 ribu kali dan disukai lebih dari 47 ribu warganet. Ia mengungkapkan, sang istri telah dirujuk dan dirawat di RS Jogja International Hospital (JIH) setelah dirawat di RS PKU Muhammadiyah. Sang istri dirujuk untuk mendapat penanganan tindakan operasi.

“Istri sudah seger mukanya, cuman masih baringan nggak bisa ngapa ngapain, sudah dirujuk dari RS PKU ke JIH, mau tindakan operasi,” ungkapnya saat dihubungi, Selasa (18/2/2020). Ia mengungkapkan ada tiga tulang yang patah. “Kemarin diagnosa cuma pinggul, ternyata ada tiga (yang patah), yaitu tulang pinggul, tulang duduk, dan tulang kemaluan,” ujarnya.

Saat ini, sang istri masih diobservasi untuk tindakan operasi beberapa hari ke depan. “Insya Allah minggu ini, kalau tidak Jumat ya Sabtu, ini masih observasi,” ucapnya. Sementara itu, Endi mengungkapkan belum melunasi biaya medis sang istri di RS PKU Muhammadiyah.

“Biaya di PKU saya masih nggantung, karena dirujuk ke JIH,” ucapnya. Namun, pihak RS PKU menyampaikan pada Endi jika sudah dihubungi pihak pemerintahan Kabupaten Sleman yang akan membantu pembayaran. “Ada juga jaminan Rp 5 juta dari relawan, sisanya katanya mau dibayar dinas, tapi sampai kemarin (Senin) masih belum ada yang melunasi,” ungkapnya.

Endi mengaku Wakil Bupati Sleman dan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman telah menjenguk istrinya. “Wakil Bupati dan BPBD sempat menjenguk tapi tidak ada kelanjutan,” ungkapnya. Endi mengungkapkan ia dan istri telah dikunjungi sejumlah pejabat daerah Pemda Sleman, Selasa (18/2/2020) pagi.

Antara lain pihak Humas Pemda, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan BPBD Sleman. “Disampaikan kepada saya jika pemerintah akan memberikan santunan sebesar Rp 18 juta,” ungkapnya. “Rp 10 juta karena adanya korban jiwa, lalu yang Rp 8 juta untuk biaya perawatan istri,” imbuhnya.

Akan tetapi bantuan senilai Rp 18 juta tersebut tidak serta merta ia terima. “Mereka minta KTP dan KK saya sebagai syarat pencairan dana, namun saya masih rembugan terlebih dahulu dengan pihak keluarga dan penasehat hukum," ungkapnya. Ia mengaku nominal dana yang diberikan pemerintah daerah Sleman tidak mampu untuk menutup kebutuhannya.

“Jujur kalau dinilai segitu saya merasa tidak cukup, untuk biaya di PKU saja nggak nutup, belum lagi setelah nanti dioperasi, biaya Rp 16 20 juta, belum lagi pemasangan plat, recovery istri saya,” ungkapnya. Atas kondisi yang dialami, istri Endi sudah tidak bisa lagi melahirkan secara normal. “Juga nanti istri saya harus cesar, kan mahal,” ungkapnya.

Endi mengaku kecewa terhadap Pemkab Sleman karena menganggap kejadian tersebut sebagai bencana, bukan kelalaian. “Sudah saya sampaikan ke pihak pemerintah, BPBD bilang 'sabar ya mas, kami terbentur peraturan yang ada',” ujarnya. Sementara itu Kabag Humas Pemerintah Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi membenarkan pihaknya telah bertemu Endi dan keluarga.

Shavitri juga membenarkan pihak Endi kurang menerima apa yang diberikan Pemkab Sleman. "Mas Endi menilai apa yang diberikan Pemkab kurang meringankan," ungkapnya. Hal ini terkait besaran jumlah bantuan yang diberikan.

"Besaran dana yang diberikan atas dasar aturannya, dari pihak BPBD menyebut kalau dirawat di rumah sakit, maksimal Rp 8 juta. Sedangkan untuk santunan duka cita Rp 10 juta, jadi Rp 18 juta," ungkapnya. Shavitri menyebut besaran dana tersebut sudah sesuai dengan proses dan aturan yang berlaku. Besaran dana disebut Shavitri sesuai dengan ketentuan bencana berat.

"Kami sudah melalui aturan aturan yang dipegang, prosesnya sama, tahapan juga sama," ungkapnya. "Kami sudah terangkan apa yang bisa dilakukan Pemkab Sleman sesuai aturan yang ada," imbuhnya.

Berita Terkait

Pasien Baru di RSPI Sulianti Saroso Miliki Riwayat Kontak dengan Grup Dansa & Bepergian menuju Jepang

Maya Rosfi'ah

PR Penting Di Awal Pemerintahan Jokowi Maruf Amin Menteri Diminta Tidak Saling Serang

Maya Rosfi'ah

Pernyataan ICW yang Sebut Jokowi Sponsor Kehancuran KPK Dinilai Kasar & Tak Etis

Maya Rosfi'ah

Kemendagri Apresiasi Sikap Positif Anies Baswedan Saat Tanggapi Pernyataan Tito Karnavian

Maya Rosfi'ah

Ingat Lagi Pengakuan 2 Terdakwa Penganiayaan Novel Baswedan Dituntut 1 Tahun Penjara

Maya Rosfi'ah

Pengemudi Ojol Diminta Bertanggung Jawab atas Kesehatan Diri Sendiri di Masa Pandemi Covid-19

Maya Rosfi'ah

Divonis 8 Tahun Penjara, Karen Agustiawan Banding

Maya Rosfi'ah

Ini Isi Teks Sumpah Pemuda hingga 13 Tokoh di Balik Sejarah 28 Oktober Peringati Sumpah Pemuda

Maya Rosfi'ah

Peringatan Dini BMKG: Waspada! Cuaca Ekstrem Hari Ini Sabtu 27 April, Dampak Pusat Tekanan Rendah

Maya Rosfi'ah

Leave a Comment